Rubrik Artikel
Judul

Secangkir Sunyi di Antara Notifikasi

Isi

Aku menulis ini di pagi yang belum sempat berisik.
Ponsel masih tertelungkup di meja.
Kopi masih mengepul.
Dan entah kenapa, aku teringat pada ibu.

Pagi dan Ibu

Ibu tidak pernah mengajariku diam.
Ia hanya melakukannya:
duduk di teras sebelum subuh,
memandangi gelap yang pelan-pelan encer,
tanpa berkata apa-apa.

Aku dulu tidak mengerti.
Sekarang aku tahu:
itulah doa paling jujur.
Tidak perlu kata.
Tidak perlu suara.

Ibu hanya duduk.
Dan dunia, entah kenapa, ikut tenang.

Tinta Sunyi adalah ruang kecil ini. Tempat aku menaruh kata-kata yang tidak cukup panjang untuk jadi esai, tidak cukup keras untuk jadi teriakan. Hanya puisi-puisi pendek. Kadang tentang ibu. Kadang tentang hujan. Kadang tentang sunyi yang tiba-tiba datang saat kau mematikan ponselmu.

Kalau kau ingin menyumbang puisi, atau sekadar membacanya dalam hati, kau sudah di tempat yang tepat. Tidak perlu paham sastra. Tidak perlu bisa menulis indah. Hanya perlu... berhenti sejenak. Dan membaca pelan-pelan.